Rencananya Kapan?
“Ada lima burung gereja berbaris di dahan pohon belimbing. Tiga diantaranya ingin segera terbang. Sekarang, sisa berapa burung di dahan pohon?” , tanya Pak Romi padaku. Pandangannya lurus mengarah pada kedua mataku yang kehilangan titik fokus.
Samar. Kedap-kedip, lirik kanan kiri. Mataku berusaha mencari-cari. “Siapa tau aja nemu jawaban di antara tumpukan dokumen di meja Pak Romi ini.” , pikirku.
Masa depan. Tak pernah gagal memikat hati kita semua dengan butir-butir harapan dan segudang rencana manis. Ibarat sebuah mainan lilin-lilinan, masa depan seolah bisa kita persiapkan sejak dini agar pada akhirnya kita bisa mendapatkan ‘bentuk’ yang kita mau. Entah kenapa, sejuk rasanya bisa membayangkan masa depan yang kita harap dapat kita tata seapik mungkin. Bahkan kadang, sudah tak sabar lagi kita dibuatnya, ingin segera menjalankan segala sesuatunya sesegera mungkin.
Tentu saja, kegagalan bukanlah bagian dari rencana kita. Segala persiapan kita lakukan agar kelak kita tak menemui kegagalan.
Pak Romi masih menunggu jawabanku tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
“Sisa dua, Pak.” , jawabku penuh ragu.
“Oh ya?”
“…”
Begitupun aku di sini. Menyusun rencana demi rencana. Berusaha menjaga masa depanku sendiri agar tak ada cacat sedikitpun. Sudah terlalu banyak kesalahan yang kubuat di masa lalu. Tidak. Aku tidak akan mengulanginya lalu merusak masa depanku.
“Kok bisa sisa dua?”
“Loh, kan kata Bapak, tadi yang tiga mau pergi dari dahan itu.”
“Baru mau pergi kan? Belum terlaksana kan? Apa kamu pikir yang dua burung yang kamu sebut sebagai sisa itu tak punya keinginan yang sama?”
“…”
Lalu aku masih tetap di sini. Masih menikmati angan-angan tentang indahnya saat-saat ketika nanti semua yang sudah ku rencanakan berjalan sesuai harapanku. Akulah burung-burung itu. Yang ingin segera pergi dari dahan, namun sekadar berkeinginan. Tak jua beranjak sedikitpun.
image source: http://bbc.in/HKcxk3
It is about how you give it, not what you give
Siapa yang gak suka di kasih surprise? Sesuatu yang menyenangkan terjadi tiba-tiba tanpa pernah kita duga-duga sebelumnya. Tapi apa kejutan itu harus mahal harganya? Aku kasih contoh dua kondisi deh.
Kondisi I:
Si cewek yang pada hari ulang tahunnya tetap harus menjalani kuliah, dia pun pergi ke kampus. Di sela-sela waktu perkuliahannya, pacarnya datang ke kampusnya dan bilang; “Sayang, selamat ulang tahun ya. Aku tadi kebetulan lagi ada meeting di deket kampus kamu, jadi sekalian aku nganterin hadiah ini buat kamu. Ini aku beliin kalung berlian buat kamu.”
Kondisi II:
Si cowok tepat jam 12 teng memberikan surprise kecil-kecilan, mendatangin rumah si cewek. Dengan terlebih dahulu meminta ijin pada kedua orang tua si cewek, beberapa hari sebelumnya. Si cowok gak datang sendirian, dia datang bersama temen-temen yang sudah diajak berkumpul sebelumnya, demi meramaikan perayaan ulang tahun si cewek. Dan tiba-tiba “TEEEEEETT”, mereka semua mengagetkan si cewek dan langsung menyanyikan lagi Happy Birthday.
Pilih mana?
Aku sih sebagai cewek pilih yang ke dua
Kalau aku ada di kondisi satu, paling banter aku jawab: “Oh. Okay. Makasi ya. Kalungnya bagus banget.”
Udah deh. Mau bilang apa lagi coba?
Bandingkan kalau ada di kondisi dua, kita bisa bersama dengan orang-orang yang kita sayangi, keluarga, teman bahkan pacar. Nyanyi-nyanyi bareng, tiup lilin, saling berpelukan. Wah kebayang deh gimana serunya
Siapa aja yang punya banyak duit bisa beli berlian. Toko yang menjual berlian pun banyak banget. Tapi buatku, berlian gak bisa membayar sebuah usaha dan kerja keras seseorang, apalagi kalau niat orang itu ingin membahagiakan kita.Yang jauh lebih bernilai dari berlian adalah kesederhanaan, gelak tawa dan canda, serta hubungan hangat dengan teman, pacar atau keluarga, yang semuanya itu gak akan bisa kita beli di toko manapun.
image source: http://bit.ly/HN9tVM
DEAR MASA LALU
Kau adalah jejak-jejak yang kubiarkan membekas, luka demi luka yang belum bias
Berkatmu kini aku belajar melangkah dan menentukan arah
Biar padamu ingatanku tersimpan
Takdir memaksa jalanku terus ke depan
Kau adalah indah yang telah lewat
Serpihan kisah yang masih kurawat
Mengendap seluruhnya dalam tulang belulang
Selalu saja ada sisa, meski ku coba membuang berulang-ulang
Di dalam sunyi senyap, ada kenangan yang tak pernah lenyap
Menangisinya menyesakkan dada
Melawannya dengan lupa, aku sudah tak lagi bertenaga
Di dalammu, ku eja lagi sudut-sudut amarahku di kala itu
Ajari aku cara meredam semuanya hingga benar-benar padam
Aku tak ingin mati dalam dendam
Namanya Juga Latahan
Dulu awalnya, kenapa aku bikin blog karena ikut-ikutan. Liat blog orang, eh kepengen punya blog sendiri. Ya maklumlah, masih imut-imut dan labil gini. *blush*
Beberapa blog yang aku baca, sedikit banyak memberi inspirasi yang akhirnya bisa menuntun aku untuk menentukan apa aja yang bakal aku posting di blogku. Nah, pada awalnya, aku berkesimpulan dalam hati: “Nanti blog aku postingannya harus melewati seleksi ketat. Gak boleh tulisan-tulisan cetek. Biar jadi blog yang keren.”
Norak ya pemikiran begitu? Yes. Emang begitulah adanya. Tapi tanpa pemikiran norak itu, aku mungkin gak akan bisa menyadari banyak hal yang sekarang akhirnya sudah aku sadari. Pertama, ketika aku pengen tulisanku terlihat baik, bagus dan berbobot di mata orang lain, makin hari aku makin sibuk mengoreksi diri sendiri yang ujungnya malah gak jadi nulis. Takut kelihatan jelek, takut dikira tulisannya cetek. Baru ngetik dua paragraf aja udah dihapus lagi. Yang ada malah gak jadi nulis apa-apa. Semua bawaannya salah melulu.
Mungkin itu yang bikin blog ini beberapa bulan terakhir vakum. *cari-cari alasan*
Well, sekarang pemikiran norak itu udah gak ada lagi. Buatku, daripada harus membiarkan blog ini nganggur tanpa update, aku memilih untuk tetap menulis di sini, degan seleksi tulisan yang gak usah terlalu ketat. Toh, tugas penulis memanglah menulis. Penilaian akan tulisannya apakah bagus atau jelek, biar yang baca aja yang menilai. Ya walaupun aku masih penulis amatiran
Jadi, mudah-mudahan sekarang aku bisa lebih leluasa mengisi postingan di blogku sendiri. Bebas deh, mau posting puisi, mau cerita, mau ngeluarin unek-unek. Pokoknya aku gak mau lagi dibayangi rasa takut akan penilaian orang lain. Beginilah aku, apa adanya. Orang lain suka tulisanku ya syukur, gak suka ya jangan dong. *eh?*
Bismillah, semoga setelah ini bisa lebih sering nulis.
Curhat Selipan si Abang Sate
Seperti biasa, malam ini bulan datang menampakkan diri. Menemani hati hati yang memeluk rindu dalam bahasanya yang sunyi. Langit tak begitu cerah, tak ada bintang di atas sana. Biarlah. Biar tetap kunikmati malam tanpa kesempurnaan. Toh masih ada jejak-jejak basah yang melengkapiku, sisa hujan tadi sore.
Pukul 19:54 WIB. Suara Abang Sate memecah keheningan. Seperti biasa. Hampir setiap malam, Abang Sate ini memang berjualan keliling melewati komplek rumahku.
“Te.. Sateeeee.. Sate ayam.. Sate kambing…” , begitu teriak si Abang Sate.
Aku lekas beranjak dari kursi teras yang sejak tadi kusinggahi. Sedikit berlari ke arah dapur, mengambil piring dan sendok lalu bergegas kembali ke depan.
Ah, jodoh.
Tepat ketika aku sampai di depan teras, si Abang Sate sedang berada di depan garasi rumahku. Kami bertukar pandang. Iya, ini kode. Tanpa perlu berteriak memanggil, seperti biasanya, si Abang Sate sudah tau aku ingin membeli satenya. Mungkin kode-kode ini pun diperjelas dengan adanya piring yang kupegang.
“Bang, sate ayamnya ya. Kayak biasa.”, ujarku sok akrab padanya. Maklum, kadang kita tidak lagi pandai membedakan mana pembeli mana pelanggan. Paling banter, beli sate ini dua minggu sekali, sudah berasa langganan yang seolah-olah membeli hampir tiap hari.
“Sepuluh tusuk, nggak pake lontong?”, si Abang bertanya untuk memastikan. Aku hanya mengangguk.
Maksud hati ingin membalikkan badan lalu masuk ke rumah sebentar, sambil menunggu sate pesananku matang. Aku ingin menghindari asapnya. Apa daya, si Abang menghentikan langkahku.
“Neng..” , panggilnya.
“Iya?”
“Tapi.. Harganya udah gak bisa kayak biasa lagi, Neng. Harga-harga di pasar lagi pada naik semua.”
“…”
Aku tersentak. Diam sesaat. Sebagian dari diriku terpukau dengan perilaku si Abang yang amat sopan berbicara padaku, dengan wajah sedikit menunduk. Kemudian sebagaian lain sisanya, aku terrenyuh. Tidak tega. Mungkin apa yang dikatakannya adalah separuh dari isi hatinya. Betapa ia harus bertahan dalam situasi di mana semua harga kebutuhan di pasar mengalami kenaikan.
“Oh.. Iya, Bang. Gak apa-apa. Bikin aja dulu satenya.”, akhirnya aku bisa menjawab dengan senyum dan berlalu.
Andai ada yang bisa kulakukan untuk membantunya, yang bukan sekadar sering-sering membeli sate dagangan si Abang.
Seperti Biasanya
malam menggelapi jalan
mengelabui waktu yang aku cemaskan
atau mungkin sesak ini adalah rindu
yang bercampur ragu?
“Bicaralah..”
mengertikah kau dengan bahasa heningku?
aku cari kau di mana-mana
tak satupun bunyi kudengar
memanggilku
mencariku
“Jangan diam..”
ah, omong kosong
bangunkan aku di sebuah pagi
ketika kita tak lagi berlaku serupa
menunggu.
Respon Beliau Bukan “Siapa Nama Temanmu?” Atau “Dimana Rumahnya?”
Gue: Bunda, aku mau nginep di rumah temenku, ngerjain tugas. Boleh ya?
Bunda: Yaudah. Tapi kamu jangan lupa sholat.
Menunggu Vs Ditunggu
X: Pengen tau rasanya ditunggu sampe bertahun-tahun.
Y: Udah coba tanya ibumu? Dia menunggumu bertahun-tahun sebelum kamu ada.
Aku Siap
Aku siap menjadi yang selalu kau ingatkan ketika ku salah, bagaimanapun caramu melakukannya. Mari membuat kesalahan lagi. Akan tetap kucintaimu dengan maaf-maafku kelak.
Titik Temu
Di sudut rindu yang hening, kita berjanji akan melepasnya satu persatu. Hanya untuk sebuah tatapmu yang mampu menggerogoti dambaku helai demi helai. Diam di situ. Jangan palingkan luka-lukamu yang dulu ke arahku.
Kau lihat jalan yang ujungnya masih semu di belakangsitu? Aku tak ingin kita menapaki yang lebih pudar lagi.
Maka jelaskanlah. Di mana kau letakkan aku dalam langkah langkahmu.Biar sama kita pijak semua bekas yang masih menjejak. Biar alunan pilu itu perlahan samar, ku gantikan dengan nada-nada kisah yang belum tercemar.
Arahkan pandangan kita ke panah yang silam lagi. Sesekali lagi. Ingatkan aku lagi bagaimana Tuhan mengantarmu pada garis takdirku. Ingatkan aku lagi arti berhargamu yang tak ternilai. Agar bisa kucintai kau dengan rasa-rasa yang terus tersemai.






